Tiba di White House Apartment hampir tengah hari. Tunggu kunci rumah setengah jam. Alasan masih belum dibersihkan. Aku sabar menunggu... kami dihidangkan dengan coffee without sugar. Aroma coffeenya ermmm... memang menawan hati. Tambahan pula di luar sana masih hujan renyai-renyai dan angin sepoi-sepoi bahasa berbisik nyaman di telingaku. Namun kekadang aku terasa bisa pabila angin lembut menyapa dan menjamah kulit sawa matangku. Terasa ngilu sampai ke tulang hitam.
Perasaanku masih bercampur baur. Dalam fikiranku hanya ingin mendengar suara anak-anakku yang belum 24 jam aku tinggalkan mereka. Rindu ku pada Sabrina... Nadhil... dan Syabil hanya Allah sahaja yang tahu. Hairan mengapa kompleksnya jiwa wanita ini. Aku terasa seperti kanak-kanak riang yang manja tak tentu pasal. Tapi ini bukan perasaan yang dibuat-buat. Inilah aku dari dahulu lagi. Aku yang sentiasa di kelilingi dengan aura kasih dan sayang...
Setelah setengah jam berlalu,kini aku sudah berada di dalam rumah kecilku. Comel dan praktikal. Semuanya lengkap katil, bantal, tilam, tv, bilik air, kitchen, back yard dan yang paling penting sekali line internet. Sepantas kilat aku mendapatkan komputer ribaku. Ya Allah seronoknya. Aku mulai dengan Facebookku kemudian YMku dan akhir sekali Skype. Suamiku pula kini berada di kota London bersama adik iparku Datin Baizura.
Betapa aku bersyukur kepada Mu Ya Allah, walau jauh namun aku tetap terasa dekat... panggilan pertama aku dan anak-anak telah menitiskan air mataku... jatuh berderai tanpa diundang. Itulah aku seorang wanita yang di luarnya begitu kuat bak kata ibu mertuaku sebelum ini 'super woman' namun hati seorang ibu ini begitu rapuh...suara anakku yang gembira tidak menggembirakan diriku langsung. Belum lagi mendengar suara Nani adikku dan emak. Rasa nak men jerit... sekuat guruh di langit... biar semua orang tahu. Keputusanku ini sungguh menyakitkan dan sekiranya aku diberi pilihan untuk balik ke Malaysia sudah pasti ingin ku pulang sepantas hali lintar di langit. Masyaallah ujian dariMu tuhan. Perpisahan sementara inipun aku hampir lumpuh jiwa dan raga.
Adakah aku kalah dengan emosi ini?
Dr. moga lebih tabah ya....
ReplyDeleteDaripada rentak dan nada bicara bisu ni dapat saya rasakan kepiluan berada jauh di perantauan. Doa saya semoga Dr Zuraidah tabah, tenang dan ceria melalui hari2 di bumi orang. Salam sayang daripada kami di Malaysia...
ReplyDelete